Sabtu, 12 Maret 2016

Recover : Chapter 1 (Awal Pertemuan)

Chapter 1 (Awal Pertemuan)

Malam itu aku pergi ke sebuah Cafe untuk menyerahkan naskahku pada Mas Rian, tapi sebelum aku sempat menyerahkannya, aku melihat sebuah insiden yang menyeretku pada salah satu pertemuan yang begitu indah dalam hidupku. Pertemuan kami berawal ketika aku melihatnya bertengkar hebat dengan kekasihnya. Kekasihnya itu membanting sebuah kotak merah dengan keras, hingga membuat seluruh isi kotak itu berhamburan keluar.
Semua mata tertuju pada drama kecil yang mereka buat. Mataku pun ikut tertuju pada mereka, aku sedikit prihatin melihat kejadian itu, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tanpa sadar sambil melamun aku bergumam sendiri. “Kayaknya mas Rian gak akan dateng deh.” Sesaat aku kembali sadar, aku hanya melakukan hal yang sia-sia disini karena sudah satu setengah jam aku menunggu kedatangannya tapi hingga saat ini ia tidak menampakkan tanda-tanda kedatangannya. Mas Rian tidak pernah sekalipun datang terlambat saat ia membuat janji dengan orang lain. Aku yakin, aku ini hanya akan membuang-buang waktunya saja.
“Lebih baik aku pulang, mas Rian kayaknya beneran gak dateng deh. Ini hanya membuang-buang waktunya saja.”
Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke arah pintu Café. Aku melihat cowok yang tadi bertengkar dengan pacarnya. Sejenak aku meliriknya dengan ujung pandanganku lalu berjalan melewatinya, tapi langkahku terhenti ketika mendapati cowok itu mengangkat kotak tadi dan membuangnya ke tempat sampah, sedang dia berjalan menuju ke arah jalanan yang sepi.
Aku menatap punggungnya dengan nanar setelah ia melewatiku begitu saja yang tengah berdiri mematung saat ini. Aku menjadi begitu berempati padanya setelah semua yang dialaminya tadi, ditinggalkan begitu saja sendirian, patah hati karena putus, dan sekarang... DIA HARUS MENGALAMI KECELAKAAN TABRAK LARI!
“!”
Aku sangat terkejut menyaksikan apa yang baru saja kulihat di depan mata kepalaku sendiri saat ini. Aku terdiam sejenak tidak tahu harus melakukan apa, tanpa sadar tahu-tahu tubuhku sudah bergetar hebat.
Aku gemetaran
Malam ini angin seakan menusuk kulitku, menyuruhku untuk segera bertindak menolong cowok yang sedang tergeletak di atas jalanan aspal itu. Aku mendekatinya, tapi malam ini semuanya tampak lebih gelap dan sunyi. Gelapnya malam ini sungguh pekat seolah-olah menjadikan pandanganku memudar. Hal itu membuatku semakin gemetar dan takut.
Tiba-tiba saja air mataku jatuh melalui pelupuk mataku, aku menggoyang-goyangkan tubuh cowok itu yang terbujur tak sadarkan diri. Pikiranku benar-benar kalut dan aku panik tidak karuan.
Aku merogoh saku celanaku dengan buru-buru, meraih ponselku, kemudian menelpon rumah sakit. Aku berusaha untuk tetap tenang saat berbicara pada lawan bicaraku. Aku memanggil ambulans dan hanya bisa menunggu kedatangannya.
Aku terus menggoyang-goyangkan tubuhnya yang tidak bergeming, memanggilnya untuk tetap terjaga, namun semua usahaku itu sia-sia saja. Cowok itu tetap diam dan tidak bersuara menyahut panggilanku. Aku ingin melakukan CPR padanya tapi aku tidak cukup berani untuk melakukannya, karena jika aku salah melakukannya maka keadaanya akan menjadi lebih buruk lagi.
Ambulans datang setelah 45 menit aku menunggu. Kami sampai di rumah sakit pukul setengah sebelas malam, aku menunggu dan dokter sedang berusaha menyelamatkan cowok yang tadi kutolong.
Aku duduk dengan gelisah di bangku rumah sakit itu, selama dua jam menunggu, aku tertidur sejenak karena kelelahan tapi aku dibangunkan oleh seorang suster.
“Mbak? Mbak bangun...”
Aku membuka kedua mataku perlahan-lahan sambil mengucek-nguceknya dan menanyakan keadaan cowok tadi pada suster itu.
“Gimana keadaan cowok itu sus? Apa dia selamat? “
“Maaf, mbak ini siapanya, ya?”
“Saya? Saya cuma orang yang gak sengaja nolong dia sus.”
“Oh gitu... pasien di dalam sudah melewati masa kritisnya, sekarang sudah tidak apa-apa, dia hanya sedikit shock dan gegar otak ringan. Besok kalau sudah sadar bisa dibawa pulang. Kalau begitu saya permisi mbak.”
“Iya, makasih ya sus.”
Aku masuk ke dalam ruangan tempat cowok itu dirawat dan duduk disampingnya. Bau obat terasa sangat pekat dihidungku. Terakhir kali aku masuk ruangan ini saat papa meninggal. Sebenarnya aku tinggal sendirian di kota ini tanpa keluarga dan sanak saudara, soalnya mama dan saudara-saudaraku tinggal di kota kelahiranku, Palembang. Aku kuliah disini karena gak mau nyusahin mama dan yang lainnya, sekaligus hitung-hitung untuk mandiri supaya gak jadi anak manja yang duduk dan menunggu di rumah terus. Disini aku bekerja untuk menambah uang saku jika aku membutuhkan sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan uang yang mama kasih padaku. Aku benar-benar hidup sendirian di kota ini karena aku tidak memiliki seorang pun saudara yang tinggal di kota ini.
Aku menghela napas melihat cowok itu, aku bingung harus melakukan apa pada dirinya. Cowok ini tidak memiliki identitas apapun yang menyangkut tentang dirinya, aku tidak bisa membawanya ke kamar kosanku, tapi aku juga tidak bisa meninggalkannya begitu saja disini karena aku kasihan padanya. Mana mungkin aku bisa membiarkan seseorang yang nyaris mati di depan mataku kubiarkan begitu saja tinggal di tempat ini jika tidak sanggup membayar perawatan lukanya.
Rasa kepedulian yang kumiliki sebenarnya menurun dari papa. Ia selalu mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Papa sebenernya bukan orang yang romantis sama keluarganya tapi papa itu suka banget peduli sama orang lain walau terkadang ada orang yang suka ngejahatin papa dan gak ngehargain kebaikkan ataupun kepedulian yang papa kasih terhadap mereka.
Tanpa sadar air mataku mengalir jatuh ke pipi. Aku sadar, aku rindu banget sama perhatian papa, aku rindu sama tawanya, aku rindu sama belaian kasih papa, aku rindu semua tentang papa.
Aku menghapus air mataku kemudian menelpon mas Rian. Mas Rian menjawab panggilanku, ia minta maaf gak bisa dateng tadi karena ada suatu urusan mendadak yang gak bisa ditunda lagi. Aku memakluminya karena aku juga harus ngerti posisi kami masing-masing yang gak bisa memaksa satu sama lain dengan semena-mena.
“Halo? Mas Rian?”
“Oh iya! Maaf Bell soal tadi mas gak bisa dateng nemuin kamu, soalnya tiba-tiba adek mas sakit. Kata dokter cuma demam biasa dan sekarang udah agak mendingan katanya. Oh ada apa kamu nelpon mas malem-malem gini?”
“I-ini loh mas... aku butuh bantuan mas, tapi kali ini kayaknya agak ribet dan bakal nyusahin mas nih...”aku menggantungkan ucapanku yang membuat mas Rian sedikit kebingungan.
“Maksud kamu apa sih Bell? Mas gak ngerti kalo gak kamu jelasin permasalahannya. Jelasin permasalahannya dulu dong baru mintak tolong.”
“Ceritanya agak panjang mas, jadi gak bisa dibicarakan lewat telpon. Gimana kalo mas dateng ke tempat aku berada sekarang? Aku bakal certain semuanya disini. Mas dateng ke rumah sakit Gedung Agung dulu, setelah sampai temuin aku di UGD-nya, ya! Aku tunggu, sampai jumpa di rumah sakit!”
“Oke deh mas ke sana sekarang.”

***
Like & Comment
Thanks ^^

2 komentar:

  1. bagusnyeeeee.... gak sabar menunggu kelanjutan ceritanya...

    BalasHapus
  2. Pin kamu masih nunggu lanjutannya gak? 😂

    BalasHapus

Hargai sebuah karya seseorang jika kamu mau dihargai :)