Chapter 1 (Awal Pertemuan)
Malam itu aku pergi ke sebuah Cafe untuk
menyerahkan naskahku pada Mas Rian, tapi sebelum aku sempat menyerahkannya, aku
melihat sebuah insiden yang menyeretku pada salah satu pertemuan yang begitu
indah dalam hidupku. Pertemuan kami berawal ketika aku melihatnya bertengkar
hebat dengan kekasihnya. Kekasihnya itu membanting sebuah kotak merah dengan
keras, hingga membuat seluruh isi kotak itu berhamburan keluar.
Semua mata tertuju pada
drama kecil yang mereka buat. Mataku pun ikut tertuju pada mereka, aku sedikit
prihatin melihat kejadian itu, namun aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Aku
mengalihkan pandanganku ke arah jam yang menunjukkan pukul setengah sembilan
malam. Tanpa sadar sambil melamun aku bergumam sendiri. “Kayaknya mas Rian gak
akan dateng deh.” Sesaat aku kembali sadar, aku hanya melakukan hal yang
sia-sia disini karena sudah satu setengah jam aku menunggu kedatangannya tapi
hingga saat ini ia tidak menampakkan tanda-tanda kedatangannya. Mas Rian tidak
pernah sekalipun datang terlambat saat ia membuat janji dengan orang lain. Aku
yakin, aku ini hanya akan membuang-buang waktunya saja.
“Lebih
baik aku pulang, mas Rian kayaknya beneran gak dateng deh. Ini hanya
membuang-buang waktunya saja.”
Aku
beranjak dari tempat dudukku dan berjalan ke arah pintu Café. Aku melihat cowok
yang tadi bertengkar dengan pacarnya. Sejenak aku meliriknya dengan ujung
pandanganku lalu berjalan melewatinya, tapi langkahku terhenti ketika mendapati
cowok itu mengangkat kotak tadi dan membuangnya ke tempat sampah, sedang dia
berjalan menuju ke arah jalanan yang sepi.
Aku
menatap punggungnya dengan nanar setelah ia melewatiku begitu saja yang tengah
berdiri mematung saat ini. Aku menjadi begitu berempati padanya setelah semua
yang dialaminya tadi, ditinggalkan begitu saja sendirian, patah hati karena
putus, dan sekarang... DIA HARUS MENGALAMI KECELAKAAN TABRAK LARI!
“!”
Aku
sangat terkejut menyaksikan apa yang baru saja kulihat di depan mata kepalaku
sendiri saat ini. Aku terdiam sejenak tidak tahu harus melakukan apa, tanpa
sadar tahu-tahu tubuhku sudah bergetar hebat.
Aku
gemetaran
Malam
ini angin seakan menusuk kulitku, menyuruhku untuk segera bertindak menolong
cowok yang sedang tergeletak di atas jalanan aspal itu. Aku mendekatinya, tapi
malam ini semuanya tampak lebih gelap dan sunyi. Gelapnya malam ini sungguh
pekat seolah-olah menjadikan pandanganku memudar. Hal itu membuatku semakin
gemetar dan takut.
Tiba-tiba
saja air mataku jatuh melalui pelupuk mataku, aku menggoyang-goyangkan tubuh
cowok itu yang terbujur tak sadarkan diri. Pikiranku benar-benar kalut dan aku
panik tidak karuan.
Aku
merogoh saku celanaku dengan buru-buru, meraih ponselku, kemudian menelpon
rumah sakit. Aku berusaha untuk tetap tenang saat berbicara pada lawan
bicaraku. Aku memanggil ambulans dan hanya bisa menunggu kedatangannya.
Aku terus
menggoyang-goyangkan tubuhnya yang tidak bergeming, memanggilnya untuk tetap
terjaga, namun semua usahaku itu sia-sia saja. Cowok itu tetap diam dan tidak
bersuara menyahut panggilanku. Aku ingin melakukan CPR padanya tapi aku tidak
cukup berani untuk melakukannya, karena jika aku salah melakukannya maka
keadaanya akan menjadi lebih buruk lagi.
Ambulans
datang setelah 45 menit aku menunggu. Kami sampai di rumah sakit pukul setengah
sebelas malam, aku menunggu dan dokter sedang berusaha menyelamatkan cowok yang
tadi kutolong.
Aku
duduk dengan gelisah di bangku rumah sakit itu, selama dua jam menunggu, aku
tertidur sejenak karena kelelahan tapi aku dibangunkan oleh seorang suster.
“Mbak?
Mbak bangun...”
Aku
membuka kedua mataku perlahan-lahan sambil mengucek-nguceknya dan menanyakan
keadaan cowok tadi pada suster itu.
“Gimana
keadaan cowok itu sus? Apa dia selamat? “
“Maaf,
mbak ini siapanya, ya?”
“Saya?
Saya cuma orang yang gak sengaja nolong dia sus.”
“Oh
gitu... pasien di dalam sudah melewati masa kritisnya, sekarang sudah tidak
apa-apa, dia hanya sedikit shock dan gegar otak ringan. Besok kalau sudah sadar
bisa dibawa pulang. Kalau begitu saya permisi mbak.”
“Iya,
makasih ya sus.”
Aku
masuk ke dalam ruangan tempat cowok itu dirawat dan duduk disampingnya. Bau
obat terasa sangat pekat dihidungku. Terakhir kali aku masuk ruangan ini saat
papa meninggal. Sebenarnya aku tinggal sendirian di kota ini tanpa keluarga dan
sanak saudara, soalnya mama dan saudara-saudaraku tinggal di kota kelahiranku,
Palembang. Aku kuliah disini karena gak mau nyusahin mama dan yang lainnya,
sekaligus hitung-hitung untuk mandiri supaya gak jadi anak manja yang duduk dan
menunggu di rumah terus. Disini aku bekerja untuk menambah uang saku jika aku
membutuhkan sesuatu yang tidak bisa kubeli dengan uang yang mama kasih padaku.
Aku benar-benar hidup sendirian di kota ini karena aku tidak memiliki seorang
pun saudara yang tinggal di kota ini.
Aku
menghela napas melihat cowok itu, aku bingung harus melakukan apa pada dirinya.
Cowok ini tidak memiliki identitas apapun yang menyangkut tentang dirinya, aku
tidak bisa membawanya ke kamar kosanku, tapi aku juga tidak bisa
meninggalkannya begitu saja disini karena aku kasihan padanya. Mana mungkin aku
bisa membiarkan seseorang yang nyaris mati di depan mataku kubiarkan begitu
saja tinggal di tempat ini jika tidak sanggup membayar perawatan lukanya.
Rasa
kepedulian yang kumiliki sebenarnya menurun dari papa. Ia selalu mementingkan
kepentingan orang lain daripada kepentingan dirinya sendiri. Papa sebenernya
bukan orang yang romantis sama keluarganya tapi papa itu suka banget peduli
sama orang lain walau terkadang ada orang yang suka ngejahatin papa dan gak
ngehargain kebaikkan ataupun kepedulian yang papa kasih terhadap mereka.
Tanpa
sadar air mataku mengalir jatuh ke pipi. Aku sadar, aku rindu banget sama
perhatian papa, aku rindu sama tawanya, aku rindu sama belaian kasih papa, aku
rindu semua tentang papa.
Aku
menghapus air mataku kemudian menelpon mas Rian. Mas Rian menjawab panggilanku,
ia minta maaf gak bisa dateng tadi karena ada suatu urusan mendadak yang gak
bisa ditunda lagi. Aku memakluminya karena aku juga harus ngerti posisi kami
masing-masing yang gak bisa memaksa satu sama lain dengan semena-mena.
“Halo?
Mas Rian?”
“Oh
iya! Maaf Bell soal tadi mas gak bisa dateng nemuin kamu, soalnya tiba-tiba
adek mas sakit. Kata dokter cuma demam biasa dan sekarang udah agak mendingan
katanya. Oh ada apa kamu nelpon mas malem-malem gini?”
“I-ini
loh mas... aku butuh bantuan mas, tapi kali ini kayaknya agak ribet dan bakal
nyusahin mas nih...”aku menggantungkan ucapanku yang membuat mas Rian sedikit
kebingungan.
“Maksud
kamu apa sih Bell? Mas gak ngerti kalo gak kamu jelasin permasalahannya. Jelasin
permasalahannya dulu dong baru mintak tolong.”
“Ceritanya
agak panjang mas, jadi gak bisa dibicarakan lewat telpon. Gimana kalo mas
dateng ke tempat aku berada sekarang? Aku bakal certain semuanya disini. Mas
dateng ke rumah sakit Gedung Agung dulu, setelah sampai temuin aku di UGD-nya,
ya! Aku tunggu, sampai jumpa di rumah sakit!”
“Oke
deh mas ke sana sekarang.”
***
Like & Comment
Thanks ^^
bagusnyeeeee.... gak sabar menunggu kelanjutan ceritanya...
BalasHapusPin kamu masih nunggu lanjutannya gak? 😂
BalasHapus