Sabtu, 23 Januari 2016

Recover : Prolog



Recover Quote's

“Aku hanya ingin selalu berada disampingmu, mengingat kenangan indah kita, bersamamu, dan melindungi apa yang kita miliki, bersama-sama. Tapi apakah aku bisa melakukan hal itu? Di saat, aku harus dihadapkan dengan dua kemungkinan yang mustahil kuraih.”
( Dimas Raditya Admadja )
“Aku tidak ingin ada disampingmu, mengingat semua kenangan indah kita, dan aku tidak ingin melindungi apa pun yang kita miliki bersama. Karena pada akhirnya kita harus dipisahkan oleh takdir yang sejak awal memilihmu agar tidak tercipta untukku...”
( Bella Kania Putri )

      Prolog
         Pagi itu aku mendengar suara gemercik air. Aku bertanya-tanya dari mana asal suara tersebut. Ketika suara gemericik tersebut tak terdengar lagi, aku menyadari bahwa ada suara lain yang sedang bersenandung. Aku membuka mata perlahan-lahan mencoba melihat sekeliling tempatku berada. Aku berusaha menggerakkan tubuhku namun saat aku berusaha menggerakkannya aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku tidak ingat apa yang terjadi pada diriku, bahkan aku tidak mengingat namaku sendiri, akan tetapi ada satu hal pasti yang masih tertinggal dalam ingatanku. Aku tertabrak sebuah mobil dan selebihnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
        Aku berhenti untuk bergerak dan sejenak terdiam menatap seisi ruang yang kutempati saat ini. Ruangan ini mirip seperti sebuah kamar... tidak, ini memang sebuah kamar. Aku mengedarkan seluruh pandanganku untuk mencari suara senandungan lembut itu dan aku berhasil menemukannya karena tiba-tiba seorang gadis cantik keluar dari sebuah pintu yang tadi tertutup. Gadis itu memiringkan kepalanya kemudian tersebyum lebar kearahku. Ia menghambur berlari mendekatiku dengan antusias sedangkan aku hanya menatapnya keheranan serta kebingungan. Aku tidak mengenal gadis itu, tapi ia tidak menghiraukan tatapanku yang masih tertuju padanya. Apa gadis ini mengenalku? Ia kemudian membantuku untuk duduk dan tiba-tiba memukul kepalaku. Aku mengaduh karena pukulannya, aku merasakan sedikit rasa pusing menghampiri kepalaku. Tapi dia tidak peduli dan malah mengomeliku serta marah-marah dengan nada khawatir padaku.
        “Bodoh! Mas ini bodoh banget, ya?! Kalo lagi putus asa itu untuk apa melarikan diri sampe ditabrak mobil segala? Gimana kalo mas mati, seandainya gak ada yang ngelihat mas waktu tertabrak itu? Mas gak ngehargain nyawa yang udah Tuhan berikan buat mas!” Aku semakin mengernyitkan dahiku dalam-dalam menatapnya. Aku mencoba bersuara untuk menanyakan siapa dia dan apa dia mengenalku, namun aku mengurungkannya karena tiba-tiba saja ia menatapku dengan aneh.
        “Ternyata kalo dilihat dari jarak segini mas ganteng juga, ya? Oh, aku lupa memperkenalkan diri, aku Bella, adik angkatmu mulai saat ini!” Ia tersenyum lagi padaku dan aku masih menatapnya dengan ekspresi yang bercampur aduk, antara tidak tahu dan tidak percaya padanya. Aku menatap matanya yang besar tanpa berkedip.
“Jangan menatapku seperti itu! Aku berkata seperti itu karena mas gak punya apapun sekarang ini. Maksudku gak ada informasi tentang identitas lengkap mas.” Setelah berkata seperti itu, ia tampak berpikir kemudian mengambil sebuah kotak merah tua dan memberikannya padaku. Aku mengulurkan tangan untuk menyambut kotak itu, aku masih merasakan rasa sakit pada seluruh anggota tubuhku, jadi aku hanya bisa membuka kotak itu dengan pelan. Di dalam kotak itu, aku melihat sebuah kaos dengan sedikit bercak darah, celana jins yang robek, gaun, mawar yang layu, dan sebuah surat kecil berwarna kuning tua. Itu sebuah surat cinta. Aku mengambil surat itu, membukanya, lalu membaca isinya.

I Love You, Sayang
Ini gaun pesanan kamu udah aku siapin sebagai hadiah buat ultah kamu yang ke-21 tahun, sekaligus aku mau ngelamar kamu sepulang aku kembali dari Swiss.
Jangan lupa dipakek ya!
Dimas

Apa ini namaku? Aku menoleh ke arah gadis itu, dan ia mengedikkan bahu tidak tahu. Aku menutup kembali kotak itu dan bertanya pada gadis yang bernama Bella itu.
        “Berapa hari aku tidur sejak kecelakaan itu menimpaku?”
        “Sejak malam kejadian... mungkin kira-kira sudah 2 hari kali ya?”
        Apakah aku sudah tidur selama itu? Aku menatap Bella lurus-lurus kemudian memegang bahu gadis mungil itu. Ia tersentak kaget melihat tindakanku itu padanya, aku yang tersadar buru-buru melepaskan tanganku agar ia tidak takut padaku. Setelah beberapa menit dalam keadaan canggung, aku membuka suara terlebih dahulu.
        “Maaf aku refleks, boleh aku minta tolong sama kamu?”
        “Hah? Minta tolong? Tolong apa?”
        “Tolong bantu aku ngumpulin ingatan-ingatan aku yang udah ilang.”
        “Jadi sekarang mas ini amnesia? Aduh, pasti bakalan susah nih kalo urusannya kayak gini.”
        Ia tampak berpikir keras dan aku sudah tidak sabar menunggu jawabannya, jadi aku bertanya padanya langsung ke inti.
        “Kamu mau bantu atau enggak?”
        “Mau sih, kayaknya seru buat referensi naskahku, tapi ada syaratnya!”
        “Apa?”
        “Kita gak boleh saling menyukai satu sama lain apalagi jatuh cinta.” Aku menatap Bella dengan malas dan setengah sebal, mana mungkin aku suka sama anak kecil kayak dia, suka aja mustahil apalagi sampe jatuh cinta sama dia, itu mustahil banget untukku. Aku hanya mengangguk pelan padanya yang tengah menunggu jawabanku.
        “Oke, kalo gitu aku setuju!”
***
 Comment and Share ^^
THANKS!!!

1 komentar:

Hargai sebuah karya seseorang jika kamu mau dihargai :)