Recover Quote's
“Aku hanya ingin selalu berada
disampingmu, mengingat kenangan indah kita, bersamamu, dan melindungi apa yang
kita miliki, bersama-sama. Tapi apakah aku bisa melakukan hal itu? Di saat, aku
harus dihadapkan dengan dua kemungkinan yang mustahil kuraih.”
( Dimas Raditya Admadja )
“Aku tidak ingin ada disampingmu,
mengingat semua kenangan indah kita, dan aku tidak ingin melindungi apa pun
yang kita miliki bersama. Karena pada akhirnya kita harus dipisahkan oleh
takdir yang sejak awal memilihmu agar tidak tercipta untukku...”
( Bella Kania Putri )
Prolog
Pagi itu aku mendengar suara gemercik air. Aku
bertanya-tanya dari mana asal suara tersebut. Ketika suara gemericik tersebut
tak terdengar lagi, aku menyadari bahwa ada suara lain yang sedang
bersenandung. Aku membuka mata perlahan-lahan mencoba melihat sekeliling
tempatku berada. Aku berusaha menggerakkan tubuhku namun saat aku berusaha
menggerakkannya aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Aku tidak
ingat apa yang terjadi pada diriku, bahkan aku tidak mengingat namaku sendiri,
akan tetapi ada satu hal pasti yang masih tertinggal dalam ingatanku. Aku tertabrak
sebuah mobil dan selebihnya aku tidak ingat apa-apa lagi.
Aku berhenti untuk bergerak dan sejenak terdiam menatap seisi
ruang yang kutempati saat ini. Ruangan ini mirip seperti sebuah kamar... tidak,
ini memang sebuah kamar. Aku mengedarkan seluruh pandanganku untuk mencari
suara senandungan lembut itu dan aku berhasil menemukannya karena tiba-tiba
seorang gadis cantik keluar dari sebuah pintu yang tadi tertutup. Gadis itu
memiringkan kepalanya kemudian tersebyum lebar kearahku. Ia menghambur berlari
mendekatiku dengan antusias sedangkan aku hanya menatapnya keheranan serta
kebingungan. Aku tidak mengenal gadis itu, tapi ia tidak menghiraukan tatapanku
yang masih tertuju padanya. Apa gadis ini mengenalku? Ia kemudian membantuku
untuk duduk dan tiba-tiba memukul kepalaku. Aku mengaduh karena pukulannya, aku
merasakan sedikit rasa pusing menghampiri kepalaku. Tapi dia tidak peduli dan
malah mengomeliku serta marah-marah dengan nada khawatir padaku.
“Bodoh! Mas ini bodoh banget, ya?! Kalo lagi putus asa itu untuk apa
melarikan diri sampe ditabrak mobil segala? Gimana kalo mas mati, seandainya
gak ada yang ngelihat mas waktu tertabrak itu? Mas gak ngehargain nyawa
yang udah Tuhan berikan buat mas!” Aku semakin mengernyitkan dahiku
dalam-dalam menatapnya. Aku mencoba bersuara untuk menanyakan siapa dia dan apa
dia mengenalku, namun aku mengurungkannya karena tiba-tiba saja ia menatapku
dengan aneh.
“Ternyata kalo dilihat dari jarak segini mas ganteng juga,
ya? Oh, aku lupa memperkenalkan diri, aku Bella, adik angkatmu mulai saat ini!”
Ia tersenyum lagi padaku dan aku masih menatapnya dengan ekspresi yang
bercampur aduk, antara tidak tahu dan tidak percaya padanya. Aku menatap matanya
yang besar tanpa berkedip.
“Jangan
menatapku seperti itu! Aku berkata seperti itu karena mas gak punya apapun
sekarang ini. Maksudku gak ada informasi tentang identitas lengkap mas.” Setelah berkata seperti itu, ia tampak berpikir kemudian mengambil sebuah
kotak merah tua dan memberikannya padaku. Aku mengulurkan tangan untuk
menyambut kotak itu, aku masih merasakan rasa sakit pada seluruh anggota
tubuhku, jadi aku hanya bisa membuka kotak itu dengan pelan. Di dalam kotak
itu, aku melihat sebuah kaos dengan sedikit bercak darah, celana jins yang
robek, gaun, mawar yang layu, dan sebuah surat kecil berwarna kuning tua. Itu sebuah
surat cinta. Aku mengambil surat itu, membukanya, lalu membaca isinya.
I Love You, Sayang
Ini gaun pesanan kamu udah
aku siapin sebagai hadiah buat ultah kamu yang ke-21 tahun, sekaligus aku mau ngelamar kamu sepulang aku kembali dari Swiss.
Jangan lupa dipakek ya!
Dimas
Apa ini
namaku? Aku menoleh ke arah gadis itu, dan ia mengedikkan bahu tidak tahu. Aku
menutup kembali kotak itu dan bertanya pada gadis yang bernama Bella itu.
“Berapa hari aku tidur sejak kecelakaan itu menimpaku?”
“Sejak malam kejadian... mungkin kira-kira sudah 2 hari kali
ya?”
Apakah aku sudah tidur selama itu? Aku menatap Bella
lurus-lurus kemudian memegang bahu gadis mungil itu. Ia tersentak kaget melihat
tindakanku itu padanya, aku yang tersadar buru-buru melepaskan tanganku agar ia
tidak takut padaku. Setelah beberapa menit dalam keadaan canggung, aku membuka
suara terlebih dahulu.
“Maaf aku refleks, boleh aku minta tolong sama kamu?”
“Hah? Minta tolong? Tolong apa?”
“Tolong bantu aku ngumpulin ingatan-ingatan aku yang udah
ilang.”
“Jadi sekarang mas ini amnesia? Aduh, pasti bakalan susah nih
kalo urusannya kayak gini.”
Ia tampak berpikir keras dan aku sudah tidak sabar menunggu
jawabannya, jadi aku bertanya padanya langsung ke inti.
“Kamu mau bantu atau enggak?”
“Mau sih, kayaknya seru buat referensi naskahku, tapi ada
syaratnya!”
“Apa?”
“Kita gak boleh saling menyukai satu sama lain apalagi jatuh
cinta.” Aku menatap Bella dengan malas dan setengah sebal, mana mungkin aku
suka sama anak kecil kayak dia, suka aja mustahil apalagi sampe jatuh cinta
sama dia, itu mustahil banget untukku. Aku hanya mengangguk pelan padanya yang
tengah menunggu jawabanku.
“Oke, kalo gitu aku setuju!”
***
Comment and Share ^^
THANKS!!!
kapan lanjutannya....kepo nihhhh.
BalasHapus